Sabtu, 27 Agustus 2016

Satu Pertanyaan Adalah Setengah Pengetahuan


Suatu pelajaran akan cepat terserap kalau siswa suasana hatinya senang dan penasaran yang diikuti dengan berbagai pertanyaan, karena dengan pertanyaan pasti akan melahirkan suatu jawaban...

Sebuah pertanyaan yang bagus adalah separuh pengetahuan......
Rasanya suatu hal yang klasik ketika setelah selesai menjelaskan di depan kelas dibuka sesi tanya jawab, tak ada satupun siswa yang bertanya. Bahkan sampai diberi stimulasi dengan memberikan hadiah tambahan nilai bagi siapa saja siswa yang berani bertanya.
Namun apa daya dari menit ke menit sesi tanya jawab siswa hanya saling pandang memandang tanpa ada arti, dan waktu terbuang sia sia saja. Kalau sudah begini  timbul keputus asaan akhirnya guru kembali ke metode mencatat dan menjelaskan mata pelajaran, terserah penyerapan pembelajaran itu urusan siswa.
Padahal dalam kurikulum 2013, metode pembelajaran yang digunakan adalah metode scientific (logika dan nalar) dengan diawali dengan suatu rasa penasaran atau keingin tahuan dari siswa. Keingin tahuan ini direpresentasikan dalam bentuk “menanya”.
Metode pembelajaran scientific approach adalah questioning (menanya). Kegiatan belajarnya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Pada kegiatan ditanya pembelajaran ini siswa melakukan pembelajaran bertanya. Siswa yang pandai dan cerdas akan bertanya atau menjawab pertanyaan baik dari guru maupun dari teman. Dari penjelasan guru yang ada mengenai mata pelajaran yang diberikan, siswa akan bertanya kepada pertanyaan  mulai dari apa, mengapa, bagaimana, kapan dan siapa kepada  guru atau teman sekelas untuk dapat ketahap memahami secara logis.
Pada langkah ini suasana pembelajaran yang berhasil adalah suasana kelas yang hidup yaitu terjadinya komunikasi aktif diskusi materi pelajaran. Siswa akan saling bertanya dan saling menjawab, sedangkan guru berperan sebagai inspirator, dan moderator untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan para siswanya.
Dari pengamatan dan survey kecil kecilan kepada siswa, ada beberapa alasan mengapa siswa enggan bertanya.
Alasan pertama, saat guru menjelaskan atau menerangkan suatu pelajaran tidak membuat siswa tertarik dengan apa yang dijelaskan, siswa tampak tenang duduknya namun pikirannya kemana saja.  Sehingga siswa tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Dari survey tanya jawab, kasus ini paling dominan. Ini artinnya guru harus mempunyai inovasi berkreasi untuk menjadikan mata pelajarannya membuat lebih menarik.
Alasan kedua, latar belakang  pola pembelajaran siswa untuk tidak berani kritis terhadap guru. Mungkin saja sekolah yang lama atau yang sebelumnya, para gurunya menggunakan metode tidak memberikan  kesempatan  untuk bertanya dan mengeluarkan ide gagasan dari siswanya.
Alasan ketiga, metode pengajaran  guru yang sering merendahkan kualitas pertanyaan dari siswa, sehinggga siswa takut untuk dijadikan bahan olok olok oleh temannya.
Alasan keempat, guru menjelaskan sangat jelas dan  tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Jika kasus ini guru harus melakukan test berupa pertanyaan yang memancing, agar menjadikan suasana penasaran dan keingintahuan siswa bangkit.
Alasan kelima guru hanya berfokus kepada siswanya yang dianggap pandai saja (pilih kasih), sehingga siswa lainnya merasa tidak ada gunanya, buat apa capai capai untuk aktif bertanya, kalau yang diperhatikan hanya mereka yang tertentu saja.

Nah, padahal keberhasilan suatu  mata pelajaran bukan pada pengajarannya tetapi pada tingkat penyerapan siswa terhadap pelajaran yang diberikan. Penyerapan sesuatu hal akan sangat efektif jika dilandasi dengan rasa penasaran atau rasa keingintahuan 

Dan rasa penasaran diawali dengan pertanyaan karena tidak tahu  adalah kata bijak dari sahabat rasul Ali bin Abi Thalib.

Dapatkanlah pengetahuan dengan mengatakan saya tidak tahu....( Imam Ali)

Salah satu metode yang pernah saya coba adalah dengan metode pengalaman (seperti Newton menemukan teori gravitasi). Metode ini tentunya bahan ajar harus melibatkan aktivitas seluruh indra dan kalau perlu anggota tubuh siswa. Kelas disuasanakan dengan semua siswa diasumsikan mempunyai kepandaian yang sama. Metode mungkin ini terbalik, biasanya teori penjelasan dahulu, kalau ini langsung diberikan suatu projek yang menarik (tentunya tetap dibimbing), metode ini meniru Stephen Covey dengan teorinya “Mulailah dari akhir pikiran” Beginning the end of mind.


Dari pengalaman yang diperoleh oleh siswa, tentunya siswa akan mulai bertanya, mengapa bisa, bagaimana prosesnya, apa saja yang bisa dihasilkan, kapan atau berapa lama proses ini bisa berlangsung dan siapa saja yang terlibat dalam projek ini. Pertanyaan rasa penasaran ini akan terjawab dari berbagai sumber belajar bisa dari guru, internet, pustaka dan lain sebagainya. Dari satu pengalaman mendapatkan puluhan pertanyaan dan akan menghasilkan seribu jawaban.

Always question what you know. It generates more answers.

Sabtu, 20 Februari 2016

Kompetensi sikap dalam Pendidkan

Kompetensi Sikap dalam Pendidikan,



Terkadang ada siswa yang memang mungkin sudah berbakat cerdas, setiap gurunya menjelaskan pelajaran, ia dengan seenaknya bertingkah mungkin ngobrol atau bercanda dengan temannya, atau bahkan dengan sengaja tidur, namun begitu gurunya menanyakan apa yang dijelaskan, ia segera dapat menjelaskan kembali secara runtut. Demikian juga terkadang ada siswa mendengarkan gurunya menjelaskan, ia duduk manis seolah serius tidak membuat ulah, namun disaat ditanya oleh gurunya ia tak paham apa yang sudah dijelaskan oleh pengajar.
Ini yang sering ditemui oleh pengajar di kelas, kasus yang kontradiktif antara intelegensia dengan attitude. Satu sisi siswa pandai namun perilakunya tak sesuai norma yang diharapkan, dan satu sisi  kita anggap kurang pandai namun perilakunya sesuai norma yang diharapkan oleh pengajar.
Pendidikan sekolah memang bukan sekedar menghasilkan orang orang yang pandai. Sesuai dengan UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003, bahwa pendidikan harus membekali peserta didik dengan kompetensi pengetahuan, kompetensi terampilan dan berujung pada kompetensi sikap.
Dan pada tujuan akhir sesuai pasal 3 UU no 20 tahun 2003 adalah menjadikan warga negara yang demokratis dan bertangung jawab.



Pengajar atau Guru dalam memberikan ilmu sudah dibekali dengan intrument mulai dari Silabus, RPP sampai dengan Buku Pegangangan Guru atau Modul Pembelajaran, namun apakah cukup dengan seperangkat intrument tersebut. Kalau hanya sebatas perangkat yang dimaksud tak ubahnya guru hanya sebagai robot pendidikan. 
The real Teacher are those who make students want to learn, guru sejatinya bukanlah petugas sekolah yang hanya mengulang ucapan dari buku ajar, atau sekedar menjalankan RPP saja, namun adalah mendidik bagaimana menginsipirasi agar siswanya senang untuk selalu belajar.  

Seorang ahli pendidikan Clay P.Bedford mengatakan, ajarilah murid dengan rasa keinginan tahu / penasaran maka mereka akan selalu mengalami proses belajar sepanjang hayatnya
  
Dalam Pendidikan Sekolah kehadiran guru di kelas mutlak diperlukan dan tidak selamanya bisa tergantikan oleh internet. Karena Tujuan Sekolah, bukanlah hanya memberi pengetahuan (knowledge) saja, pengetahuan yang diberikan oleh sekolah sangat minim sekali dari dunia nyata dan bahkan seiring kemajuan jaman selalu berubah.
Guru harus pandai mensisipkan kompetensi Sikap yaitu meneladani bersikap displin, bertanggung jawab, empati dan respek dan lain sebagainya.  

Dalam setiap kompetensi pengetahuan, guru memang harus mengeksplorasi penalaran siswanya agar dapat berpikir secara rasional, namun agar tidak mengesampingkan bahwa dalam hal yang rasionalitas ada seuatu bahwa pengetahuan ini adalah mutlak dari sang Pencipta, untuk bekal menjaga alam semesta. Seperti apa yang dikatakan oleh Albert Einstein " Sciences without Religion is lame,  and Relgion without Sciences is blind"  ini artinya Ilmu dan Agama adalah saling melengkapi dan memperkuat.
Guru harus bisa mengembangkan pengetahuan yang diajarkan dengan realita saat ini baik dengan memberikan pelajaran praktekkan teori yang diajarkan atau mensimulasikan bahwa pengetahuan ini bermanfaat  untuk kehidupan manusia. 
Oleh sebab itu guru harus mempunyai prinsip "Jangan Pernah Berhenti Belajar,... Karena Kehidupan Tak Pernah Berhenti Mengajar" 
Belajar untuk mengkorelasikan bahan ajar pengetahuan dengan realita saat ini, sehingga siswa dapat merasakan manfaat ilmu yang diterapkan.
"We hear and we can forget, we see and we can remember, we do and we will 
understand,.."




Dalam mempraktekkan pengetahuan yang didapat, 
setiap kegagalan akan didiskusikan untuk  
menambah pengetahuan baru.
(dok : SMK TELKOM Jakarta )

Guru dituntut untuk berkreasi dan berinovasi dalam menyampaikan materi pelajaran dan pesan moral, dan kreasi saat ini tidak bisa diulang untuk hari esok, karena dunia dan persepsi selalu berubah.
Pengembangan pengetahuan dengan mempraktekkan ke dalam realita  adalah sebagai wujud membekali keterampilan pengetahuan yang sudah didapat, agar siswa setelah memahami dapat menerapkan dengan cara yang benar.
Keterampilan ini bukan sekedar yang harus dapat dilakukan sesuai dengan standard teknis materi ajar, namun adalah ketrampilan yang mempunyai nilai nilai moral yang luhur.
Misalnya nilai nilai disiplin terhadap posedur yang sudah ditentukan, tidak merusak lingkungan, kerjasama, saling menghargai dalam satu team dan lain sebagainya.
Maka untuk kompetensi sikap, sebetulnya harus diinterintegrasi pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan.  Karena Sikap pada dasarnya adalah ibarat gunung es yang tersembunyi, sehingga harus direalisasikan ke dalam Pengetahuan dan Ketrampilan agar nampak dan dapat memanfaatkan kompetensi Pengetahuan dan Ketrampilan.
Dengan demikian diharapkan dengan Modal Kompetensi Pengetahuan dan Keterampilan, akan melahirkan sikap untuk membuat kebaikan bagi sesama manusia dan alam semesta.


Seorang tokoh Fisika Albert Eistein mengatakan, Hasil Belajar adalah seuatu apa yang tersisa dari yang terlupa,..... 
"Education is what remains after one has forgotetten what one has learned in school"
Nah dari ucapan ini memang kenyataannya " entah itu rumus kimia atau rumus matematika setelah lulus sekolah pasti terlupakan, namun guru yang mengispirasi bagaimana caranya belajar kimia dan matematika  dan bagaimana bersikap akan selalu dikenang"
Oleh sebab itu kehadiran seorang guru dalam memberikan inspirasi bagaimana belajar dan bagimana bersikap akan selalu dikenang.

(SukhendroP)