Suatu pelajaran akan cepat terserap kalau siswa suasana hatinya senang dan penasaran yang diikuti dengan berbagai pertanyaan, karena dengan pertanyaan pasti akan melahirkan suatu jawaban...
Sebuah pertanyaan yang bagus adalah
separuh pengetahuan......
Rasanya suatu hal yang
klasik ketika setelah selesai menjelaskan di depan kelas dibuka sesi tanya
jawab, tak ada satupun siswa yang bertanya. Bahkan sampai diberi stimulasi
dengan memberikan hadiah tambahan nilai bagi siapa saja siswa yang berani bertanya.
Namun apa daya dari
menit ke menit sesi tanya jawab siswa hanya saling pandang memandang tanpa ada
arti, dan waktu terbuang sia sia saja. Kalau sudah begini timbul keputus asaan akhirnya guru kembali ke
metode mencatat dan menjelaskan mata pelajaran, terserah penyerapan pembelajaran
itu urusan siswa.
Padahal dalam kurikulum
2013, metode pembelajaran yang digunakan adalah metode scientific (logika dan
nalar) dengan diawali dengan suatu rasa penasaran atau keingin tahuan dari
siswa. Keingin tahuan ini direpresentasikan dalam bentuk “menanya”.
Metode pembelajaran scientific
approach adalah questioning (menanya). Kegiatan belajarnya adalah mengajukan
pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau
pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati
(dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).
Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu,
kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk
hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Pada kegiatan ditanya pembelajaran ini siswa
melakukan pembelajaran bertanya. Siswa yang pandai dan cerdas akan bertanya
atau menjawab pertanyaan baik dari guru maupun dari teman. Dari penjelasan guru
yang ada mengenai mata pelajaran yang diberikan, siswa akan bertanya kepada
pertanyaan mulai dari apa, mengapa,
bagaimana, kapan dan siapa kepada guru
atau teman sekelas untuk dapat ketahap memahami secara logis.
Pada langkah ini
suasana pembelajaran yang berhasil adalah suasana kelas yang hidup yaitu
terjadinya komunikasi aktif diskusi materi pelajaran. Siswa akan saling
bertanya dan saling menjawab, sedangkan guru berperan sebagai inspirator, dan moderator
untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan para siswanya.
Dari pengamatan dan
survey kecil kecilan kepada siswa, ada beberapa alasan mengapa siswa enggan
bertanya.
Alasan pertama, saat
guru menjelaskan atau menerangkan suatu pelajaran tidak membuat siswa tertarik
dengan apa yang dijelaskan, siswa tampak tenang duduknya namun pikirannya
kemana saja. Sehingga siswa tidak tahu
apa yang harus ditanyakan. Dari survey tanya jawab, kasus ini paling dominan.
Ini artinnya guru harus mempunyai inovasi berkreasi untuk menjadikan mata
pelajarannya membuat lebih menarik.
Alasan kedua, latar
belakang pola pembelajaran siswa untuk
tidak berani kritis terhadap guru. Mungkin saja sekolah yang lama atau yang
sebelumnya, para gurunya menggunakan metode tidak memberikan kesempatan untuk bertanya dan mengeluarkan ide gagasan
dari siswanya.
Alasan ketiga, metode
pengajaran guru yang sering merendahkan
kualitas pertanyaan dari siswa, sehinggga siswa takut untuk dijadikan bahan
olok olok oleh temannya.
Alasan keempat, guru
menjelaskan sangat jelas dan tidak ada
yang perlu dipertanyakan lagi. Jika kasus ini guru harus melakukan test berupa
pertanyaan yang memancing, agar menjadikan suasana penasaran dan keingintahuan
siswa bangkit.
Alasan kelima guru
hanya berfokus kepada siswanya yang dianggap pandai saja (pilih kasih),
sehingga siswa lainnya merasa tidak ada gunanya, buat apa capai capai untuk
aktif bertanya, kalau yang diperhatikan hanya mereka yang tertentu saja.
Nah, padahal keberhasilan
suatu mata pelajaran bukan pada
pengajarannya tetapi pada tingkat penyerapan siswa terhadap pelajaran yang
diberikan. Penyerapan sesuatu hal akan sangat efektif jika dilandasi dengan
rasa penasaran atau rasa keingintahuan
Dan rasa penasaran diawali dengan
pertanyaan karena tidak tahu adalah kata bijak dari
sahabat rasul Ali bin Abi Thalib.
Dapatkanlah pengetahuan dengan mengatakan saya tidak tahu....( Imam Ali)
Salah satu metode yang
pernah saya coba adalah dengan metode pengalaman (seperti Newton menemukan
teori gravitasi). Metode ini tentunya bahan ajar harus melibatkan aktivitas
seluruh indra dan kalau perlu anggota tubuh siswa. Kelas disuasanakan dengan semua
siswa diasumsikan mempunyai kepandaian yang sama. Metode mungkin ini terbalik,
biasanya teori penjelasan dahulu, kalau ini langsung diberikan suatu projek
yang menarik (tentunya tetap dibimbing), metode ini meniru Stephen Covey dengan
teorinya “Mulailah dari akhir pikiran” Beginning the end of mind.
Dari pengalaman yang
diperoleh oleh siswa, tentunya siswa akan mulai bertanya, mengapa bisa,
bagaimana prosesnya, apa saja yang bisa dihasilkan, kapan atau berapa lama
proses ini bisa berlangsung dan siapa saja yang terlibat dalam projek ini.
Pertanyaan rasa penasaran ini akan terjawab dari berbagai sumber belajar bisa
dari guru, internet, pustaka dan lain sebagainya. Dari satu pengalaman
mendapatkan puluhan pertanyaan dan akan menghasilkan seribu jawaban.
Always question what you know. It generates more answers.





