Kompetensi Sikap dalam Pendidikan,
Terkadang ada siswa yang memang mungkin sudah berbakat cerdas, setiap gurunya menjelaskan pelajaran, ia dengan seenaknya bertingkah mungkin ngobrol atau bercanda dengan temannya, atau bahkan dengan sengaja tidur, namun begitu gurunya menanyakan apa yang dijelaskan, ia segera dapat menjelaskan kembali secara runtut. Demikian juga terkadang ada siswa mendengarkan gurunya menjelaskan, ia duduk manis seolah serius tidak membuat ulah, namun disaat ditanya oleh gurunya ia tak paham apa yang sudah dijelaskan oleh pengajar.
Ini yang sering ditemui oleh pengajar di kelas, kasus yang kontradiktif antara intelegensia dengan attitude. Satu sisi siswa pandai namun perilakunya tak sesuai norma yang diharapkan, dan satu sisi kita anggap kurang pandai namun perilakunya sesuai norma yang diharapkan oleh pengajar.
Pendidikan sekolah memang bukan sekedar menghasilkan orang orang yang pandai. Sesuai dengan UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003, bahwa pendidikan harus membekali peserta didik dengan kompetensi pengetahuan, kompetensi terampilan dan berujung pada kompetensi sikap.
Dan pada tujuan akhir sesuai pasal 3 UU no 20 tahun 2003 adalah menjadikan warga negara yang demokratis dan bertangung jawab.
Pengajar atau Guru dalam memberikan ilmu sudah dibekali dengan intrument mulai dari Silabus, RPP sampai dengan Buku Pegangangan Guru atau Modul Pembelajaran, namun apakah cukup dengan seperangkat intrument tersebut. Kalau hanya sebatas perangkat yang dimaksud tak ubahnya guru hanya sebagai robot pendidikan.
The real Teacher are those who make students want to learn, guru sejatinya bukanlah petugas sekolah yang hanya mengulang ucapan dari buku ajar, atau sekedar menjalankan RPP saja, namun adalah mendidik bagaimana menginsipirasi agar siswanya senang untuk selalu belajar.
Seorang ahli pendidikan Clay P.Bedford mengatakan, ajarilah murid dengan rasa keinginan tahu / penasaran maka mereka akan selalu mengalami proses belajar sepanjang hayatnya
Dalam Pendidikan Sekolah kehadiran guru di kelas mutlak diperlukan dan tidak selamanya bisa tergantikan oleh internet. Karena Tujuan Sekolah, bukanlah hanya memberi pengetahuan (knowledge) saja, pengetahuan yang diberikan oleh sekolah sangat minim sekali dari dunia nyata dan bahkan seiring kemajuan jaman selalu berubah.
Guru harus pandai mensisipkan kompetensi Sikap yaitu meneladani bersikap displin, bertanggung jawab, empati dan respek dan lain sebagainya.
Dalam setiap kompetensi pengetahuan, guru memang harus mengeksplorasi penalaran siswanya agar dapat berpikir secara rasional, namun agar tidak mengesampingkan bahwa dalam hal yang rasionalitas ada seuatu bahwa pengetahuan ini adalah mutlak dari sang Pencipta, untuk bekal menjaga alam semesta. Seperti apa yang dikatakan oleh Albert Einstein " Sciences without Religion is lame, and Relgion without Sciences is blind" ini artinya Ilmu dan Agama adalah saling melengkapi dan memperkuat.
Guru harus bisa mengembangkan pengetahuan yang diajarkan dengan realita saat ini baik dengan memberikan pelajaran praktekkan teori yang diajarkan atau mensimulasikan bahwa pengetahuan ini bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Oleh sebab itu guru harus mempunyai prinsip "Jangan Pernah Berhenti Belajar,... Karena Kehidupan Tak Pernah Berhenti Mengajar"
Belajar untuk mengkorelasikan bahan ajar pengetahuan dengan realita saat ini, sehingga siswa dapat merasakan manfaat ilmu yang diterapkan.
"We hear and we can forget, we see and we can remember, we do and we will
understand,.."
Guru dituntut untuk berkreasi dan berinovasi dalam menyampaikan materi pelajaran dan pesan moral, dan kreasi saat ini tidak bisa diulang untuk hari esok, karena dunia dan persepsi selalu berubah.
Pengembangan pengetahuan dengan mempraktekkan ke dalam realita adalah sebagai wujud membekali keterampilan pengetahuan yang sudah didapat, agar siswa setelah memahami dapat menerapkan dengan cara yang benar.
Keterampilan ini bukan sekedar yang harus dapat dilakukan sesuai dengan standard teknis materi ajar, namun adalah ketrampilan yang mempunyai nilai nilai moral yang luhur.
Misalnya nilai nilai disiplin terhadap posedur yang sudah ditentukan, tidak merusak lingkungan, kerjasama, saling menghargai dalam satu team dan lain sebagainya.
Maka untuk kompetensi sikap, sebetulnya harus diinterintegrasi pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan. Karena Sikap pada dasarnya adalah ibarat gunung es yang tersembunyi, sehingga harus direalisasikan ke dalam Pengetahuan dan Ketrampilan agar nampak dan dapat memanfaatkan kompetensi Pengetahuan dan Ketrampilan.
Dengan demikian diharapkan dengan Modal Kompetensi Pengetahuan dan Keterampilan, akan melahirkan sikap untuk membuat kebaikan bagi sesama manusia dan alam semesta.
Seorang tokoh Fisika Albert Eistein mengatakan, Hasil Belajar adalah seuatu apa yang tersisa dari yang terlupa,.....
"Education is what remains after one has forgotetten what one has learned in school"
Nah dari ucapan ini memang kenyataannya " entah itu rumus kimia atau rumus matematika setelah lulus sekolah pasti terlupakan, namun guru yang mengispirasi bagaimana caranya belajar kimia dan matematika dan bagaimana bersikap akan selalu dikenang"
Oleh sebab itu kehadiran seorang guru dalam memberikan inspirasi bagaimana belajar dan bagimana bersikap akan selalu dikenang.
(SukhendroP)
Pendidikan sekolah memang bukan sekedar menghasilkan orang orang yang pandai. Sesuai dengan UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003, bahwa pendidikan harus membekali peserta didik dengan kompetensi pengetahuan, kompetensi terampilan dan berujung pada kompetensi sikap.
Dan pada tujuan akhir sesuai pasal 3 UU no 20 tahun 2003 adalah menjadikan warga negara yang demokratis dan bertangung jawab.
Pengajar atau Guru dalam memberikan ilmu sudah dibekali dengan intrument mulai dari Silabus, RPP sampai dengan Buku Pegangangan Guru atau Modul Pembelajaran, namun apakah cukup dengan seperangkat intrument tersebut. Kalau hanya sebatas perangkat yang dimaksud tak ubahnya guru hanya sebagai robot pendidikan.
The real Teacher are those who make students want to learn, guru sejatinya bukanlah petugas sekolah yang hanya mengulang ucapan dari buku ajar, atau sekedar menjalankan RPP saja, namun adalah mendidik bagaimana menginsipirasi agar siswanya senang untuk selalu belajar.
Seorang ahli pendidikan Clay P.Bedford mengatakan, ajarilah murid dengan rasa keinginan tahu / penasaran maka mereka akan selalu mengalami proses belajar sepanjang hayatnya
Dalam Pendidikan Sekolah kehadiran guru di kelas mutlak diperlukan dan tidak selamanya bisa tergantikan oleh internet. Karena Tujuan Sekolah, bukanlah hanya memberi pengetahuan (knowledge) saja, pengetahuan yang diberikan oleh sekolah sangat minim sekali dari dunia nyata dan bahkan seiring kemajuan jaman selalu berubah.
Guru harus pandai mensisipkan kompetensi Sikap yaitu meneladani bersikap displin, bertanggung jawab, empati dan respek dan lain sebagainya.
Dalam setiap kompetensi pengetahuan, guru memang harus mengeksplorasi penalaran siswanya agar dapat berpikir secara rasional, namun agar tidak mengesampingkan bahwa dalam hal yang rasionalitas ada seuatu bahwa pengetahuan ini adalah mutlak dari sang Pencipta, untuk bekal menjaga alam semesta. Seperti apa yang dikatakan oleh Albert Einstein " Sciences without Religion is lame, and Relgion without Sciences is blind" ini artinya Ilmu dan Agama adalah saling melengkapi dan memperkuat.
Guru harus bisa mengembangkan pengetahuan yang diajarkan dengan realita saat ini baik dengan memberikan pelajaran praktekkan teori yang diajarkan atau mensimulasikan bahwa pengetahuan ini bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Oleh sebab itu guru harus mempunyai prinsip "Jangan Pernah Berhenti Belajar,... Karena Kehidupan Tak Pernah Berhenti Mengajar"
"We hear and we can forget, we see and we can remember, we do and we will
understand,.."
Dalam mempraktekkan pengetahuan yang didapat,
setiap kegagalan akan didiskusikan untuk
menambah pengetahuan baru.
setiap kegagalan akan didiskusikan untuk
menambah pengetahuan baru.
(dok : SMK TELKOM Jakarta )
Pengembangan pengetahuan dengan mempraktekkan ke dalam realita adalah sebagai wujud membekali keterampilan pengetahuan yang sudah didapat, agar siswa setelah memahami dapat menerapkan dengan cara yang benar.
Keterampilan ini bukan sekedar yang harus dapat dilakukan sesuai dengan standard teknis materi ajar, namun adalah ketrampilan yang mempunyai nilai nilai moral yang luhur.
Misalnya nilai nilai disiplin terhadap posedur yang sudah ditentukan, tidak merusak lingkungan, kerjasama, saling menghargai dalam satu team dan lain sebagainya.
Maka untuk kompetensi sikap, sebetulnya harus diinterintegrasi pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan. Karena Sikap pada dasarnya adalah ibarat gunung es yang tersembunyi, sehingga harus direalisasikan ke dalam Pengetahuan dan Ketrampilan agar nampak dan dapat memanfaatkan kompetensi Pengetahuan dan Ketrampilan.
Dengan demikian diharapkan dengan Modal Kompetensi Pengetahuan dan Keterampilan, akan melahirkan sikap untuk membuat kebaikan bagi sesama manusia dan alam semesta.
Seorang tokoh Fisika Albert Eistein mengatakan, Hasil Belajar adalah seuatu apa yang tersisa dari yang terlupa,.....
"Education is what remains after one has forgotetten what one has learned in school"
Nah dari ucapan ini memang kenyataannya " entah itu rumus kimia atau rumus matematika setelah lulus sekolah pasti terlupakan, namun guru yang mengispirasi bagaimana caranya belajar kimia dan matematika dan bagaimana bersikap akan selalu dikenang"
Oleh sebab itu kehadiran seorang guru dalam memberikan inspirasi bagaimana belajar dan bagimana bersikap akan selalu dikenang.
(SukhendroP)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar