Rabu, 09 Desember 2015

Teaching with Passion

Mengajar dengan Passion, siswa akan lebih menyenangi belajar

Educating the mind without educating the heart is no education at all. ,.. mendidik tanpa hati adalah sama sekali tidak mendidik, demikian kata bijak dari Ki Hajar Dewantor.
Otak akan merasa nyaman untuk berpikir, jika hati juga senang. Ada juga yang mengatakan "Gedung Sekolah itu penting, Tetapi lebih penting Kurikulumnya, Kurikulum itu penting tetapi yang penting adalah Gurunya,.. Guru itu sangat penting,..tetapi yang lebih Penting lagi Gurunya mengajar dengan Hati.
Bagi seorang Guru sebelum berangkat mengajar kesekolah setidaknya harus mempunyai persiapan 3 (tiga) hal primer  yang sangat mendasar.

Pertama, adalah materi dan bahan ajar. Tanpa persiapan materi maka proses pembelajaran akan kehilangan arah tujuan yang diharapkan dari siswa maupun guru. Bukan hanya sekedar persiapan materi, guru juga harus mendalami materi agar jika ada pertanyaan kritis dari siswa dapat menjawab. Jangan sampai guru tidak menguasai materi, maka dapat menurunkan kewibawaan dan kepercayaan guru. Korelasi kepercayaan kepada guru akan sangat berpengaruh kepada proses pembelajaran terhadap siswa, jika guru tidak menguasai materi yang diajarkan bagaimana siswa dapat memahami apa yang di ajarkan. Ada sebuah kata bijak "doscendo dismicus,.... aku mengajar maka aku belajar" artinya kalau guru tidak belajar maka akan lebih baik tidak perlu mengajar.

Kedua, adalah Metode menerapkan bagaimana menyampaikan materi pembelajaran secara efektif dengan nyaman, jelas dan menyenangkan. Bukan hanya sekedar membuka laptop dan menayangkan dengan projektor terus membaca tayangan atau menulis di papan tulis.
Penulis pernah punya pengalaman, mempunyai  seorag dosen yang sangat pandai sekali gelar titelnya berderet baik didepan maupun dibelakang namanya, Namun saat mengajar metodenya hanya menayangkan slide terus bicara monoton tentang apa yang ditayangkan, sehinga suasananya sangat kering. Mugkin apa yang terserap di benak mahasiswanya tidak lebih dari 50% saja.
Lain waktu penulis juga punya seorang dosen, yang mungkin nampaknya biasa biasa saja, saat mengajarkan bahkan dia tidak pernah lihat tayangannya sendiri. Penuh ekspresi dan gerakan tubuhnya semua bergerak, jalan mondar mandir kebelang ke depan, sehinga pandangan matanya tidak pada satu kelompok mahsiswanya, menjelaskan lebih banyak hubungan antaa mata kuliah dengan kehidupan sehari hari. Terkadang juga diselingi dengan kata kata humor, susana kelas rasanya hidup, sehingga para mahasiswa sangat terkesan dengan mata kuliah ini. Dosen ini mungkin menerapkan Joyful Learning agar materi yang disampaikan dapat optimal terserap kedalam pikiran ke para mahasiswanya. Disini menenankan bukannya santai tetapi metode membuat kenyamanan belajar.
belajar dengan suasana yang menyenangkan membuat optimal berpikir

Ketiga, adalah Passion , yang mungkin terjemahannya adalah mencintai sepenuhnya profesi yang diemban tanpa mengharapkan sesuatu. Seorang guru yang baik, adalah ketika ia masuk kelas mesi dengan hati Dengan energi dan vibrasi cinta kepada anak anak disik. Mengajar tanpa hati maa pasi suasana akan hambar. Bahkan dipastikan anak anak didik, mendengar juga tanpa hati, atau istilahnya Hearing without Listening.
Kita pasti punya pengalaman jika diajarkan seorang guru yang dengan passion, pasti mempunyai kesan yang mendalam dibanding dengan guru yang mengajar hanya sesuai dengan kewajibannya.
Mengajar dengan hati yang kesal, atau muka cemberut. akan mempengaruhi siswa yang diajar dan membuat suasana proses pembelajaran tidak akan optimal.
Maka hendaknya guru saat berangkat dari rumah, harus sudah menjaga emosi dan niatkan penuh untuk selalu mencintai profesi dan anak anak didik....
(Sukhendro, 10 Desember 2015)

Benarkah internet membuat pintar,...?

Ada beberapa kalangan pendidik mengatakan, hanya Internet yg dapat membuat anak untuk menjadi pintar pada abad 21 ini, karena perkembangan pengetahuan yang begitu cepat sehingga harus diimbangi dengan kecepatan informasi. Pertanyaannya, benarkah pendapat bahwainternet membuat untuk menjadi pintar. Jawabannya menurut penulis belum tentu, bisa iya atau bisa tidak.
 Sebenarnya manfaat internet untuk proses pembelajaran memang diakui sebagai keniscayaan selama penggunaannya tepat, namun dibalik manfaat ada dampak negatif yang senantiasa membayangi yang berhubungan dengan kemampuan berpikir penggunanya.

Buku cetak vs Internet.


Ada salah satu sekolah di Amerika, Cushing Academy memutuskan menutup perpustakaan dengan ribuan buku koleksi. Perpustakaan ini secara total diganti dengan teknologi IT atau internet. Oleh sekolah ini disebut dengan State of the art computers high definition.
Fasilitas yang super canggih ini tersambung dengan broadband internet kecepatan tinggi, yang dapat menyediakan informasi yang berlimpah dan selalu mutakhir dari berbagai penjuru dunia, untuk keperluan pembelajaran dan penelitian para siswanya.      
Asumsi sekolah bahwa membaca buku cetak dan membaca dengan media komputer dianggap sama saja, artinya proses membaca apapun medianya dianggap sama. Seorang pakar informasi dan komunikasi bernama Nicholas Carr mengkritik kebijakan sekolah tersebut.Menurut Carr, sangat berbedas saat membaca buku cetak dengan membaca media komputer yang terhubung dengan jaringan internet.
Saat membaca buku cetak, maka pembaca suasananya seolah terisolasi, sehingga ia bisa fokus kepada bacaannya.Membaca buku adalah merupakan proses berpikir, untuk mengetahui sesuatu hal yang baru, menganalisa, mengkritisi, mengimajinasi, dan reflektif serta melatih berkreasi.
Sebaliknya pada saat membaca pada media IT yang terkoneksi dengan jaringan internet pembaca akan tergoda dengan gangguan konten yang lain misalnya game on line, whats up, facebook, e-mail dan lain sebagainya. Maka sangat memungkinkan membaca sebuah artikel yang panjang dan bermuatan yang memerlukan olah pikir menjadi sebuah tugas yang berat.
Maka tak heran jika suatu media berita semisal detik.com memuat berita akan terpenggal yang diperkirakan membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk dibaca.Hal tersebut karena pikiran kita tidak memungkinkan untuk berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Kemudahan kemudahan untuk mengakses informasi dan hiburan membuat kemampuan otak manusia manja yang berakibat berkurangnya fokus untuk membaca.

Kegiatan Belajar dengan Internet




Sejauh ini pandangan efek negatif Internet pada anak anak adalah hanya pada konten yang bersifat mengandung pornografi dan kekerasan, Padahal disamping efek negatif dari konten tersebut, adalah penggunaan sarana belajar.
Ada yang menganggap dengan cara mencari informasi pengetahuan siswa dapat mengerjakan tugas tugas dari guru. Siswa diberi tugas utuk mendapatkan suatu pengetahuan baru dari guru, maka yang dilakukan siswa adalah mencari meteri yang berlembar lembar dari internet dengan cara " copy and paste", yang mereka tidak mengerti apalagi dipahami. Mereka hanya sekedar memindahkan tulisan yang ada dilaman ke kertas, tanpa melalui proses membaca dan berpikir.  
Seorang pakar pendidikan Mark Baulein, dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada bukunya "The Dumbest Generation" mengatakan bahwa siswa yang diberi tugas oleh gurunya hanya sekedar mencari, dan  memindahkan informasi, bukan untuk membaca dan menganalisa untuk membangun pengetahuan di benaknya. Informasi dari internet hana lewat begitu saja di kepalanya.  Yang dilakukan pada anak anak juga dilakukan oleh orang dewasa untuk mencomot suatu artikel tanpa harus diperiksa kesahihannya maupun kebenarannya, dan tanpa memahami apa makna dari artikel tersebut.

Belajar Budaya Literasi



Harapan harapan yang ditumpukan untuk proses pembelajaran pada teknologi internet teralu sangat besar. Sayangnya harapan besar itu tidak dibarengi dengan sikap kritis, dan sering mengabaikan bahwa internet tidak bekerja sendirian. Pengguna internet sebagai subyek sebetulya adalah lebih penting dibanding dengan teknologi internet itu sendiri.
Sebagai pendidik yang juga mewajibkan melek terhadap Teknologi Internet, hendaknya jga membekali siswanya sebagai pengguna internet dengan budaya membaca dan menulis atau Budaya Literasi, karena setidaknya saat membaca buku, pikiran akan berkonsentrasi dan mengalami proses pikir, sedangkan menulis adalah bagaimana menuangkan buah pikiran maupun gagasan.
Dalam budaya Literasi terkandung sikap kritis dalam proses pencarian informasi Setiap informasi tidak begi saja dilakukan copy dan paste kedalam tugas tugas sekolah atau kuliah.
Dalam hal ini tidak menafikkan  Teknologi Informasi Internet sebagai sumber pengetahuan, namun harus diiringi budaya Literasi, yaitu hendaknya terlebih dahulu dibaca, dicerna, dipahami, dan dibangun untuk menjadi pengetahuan. Tanpa proses budaya Literasi maka Teknologi Informasi bukan akan membangun pengetahuan, namun akan mereduksi cara berpikir siswa untuk menambah pengetahuan.
(Sukhendro, Jakarta 7 Desember 2015)

Kamis, 03 Desember 2015

When the Pen becomes the sword


"Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh di kemudian hari" ,  demikian Pramoedya menulis dalam novelnya Anak Semua Bangsa.  Maka tak salah jika orang yang mengatakan bahwa menulis itu mempunyai kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia.
Menulis bukan sekedar menggoreskan pena dikertas, tetapi lebih jauh lagi menuangkan gagasan atau ide yang dapat mempengaruhi pikiran orang yang membacanya, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi perbuatan atau tindakannnya.
Secara empirik, kemajuan suatu bangsa adalah ditandai banyaknya  penulis atau banyaknya buku yang diterbitkan, artinya bangsa itu sudah mulai menjadi masyarakat menulis  (literality social), sementara bangsa yang masih sedikit memproduksi buku bacaan adalah masih pada masyarakat  berbudaya lisan ( oral social).

Ada beberapa alasan mengapa orang untuk menulis.
1.  Menuangkan kreativitas, orang tak mungkin hanya menyimpan ide atau gagasannya didalam pikirannya,  sebagai mahluk sosial pasti ide atau gagasan harus  disampaikan kepada orang lain dengan cara yang lebih efektif dibanding harus bicara personal to personal.
2. Mengembangkan Imajinasi, mungkin kita pernah dengar cerita fiktif yang  bisa menimbulkan imajinasi orang yang membaca. Contohnya adalah Jules Verne, yang dapat mengimanjinasi  yang membaca novelnya.
3.Mengembangkan perbendaharaan kata.   Saat kia membaca buku atau tulisan, setidaknya pikiran akan menambah perbendaharaan kata dan bahkan akan mengingat perbendaharaan kata yang mungkin dapat memperkaya pemgetahuan untuk komunikasi.
4. Mengabadikan, dengan tulisan maka suatu pengetahuan atau ajaran akan timeless,atau selalu abadi contohnya adalah kitab suci Al Quran atau mushaf , dimana tulisan yang mengandung wahyu Allah SWT yang diabadikan melalui Rasulullah Muhamad diabadikan dalam bentuk literasi.
5. Kenangan masa lalu  atau Riwayat agar  dapat diketahui oleh generasi selanjutnya. Negara negara maju setiap peristiwa selalu mendokumentasikan dalam bentuk buku buku agar dapat diketahui oleh generasi penerusnya. HHal ini di negeri kita  masih kurang peduli, bahkan konon para peneliti sejarah nusantara, saat meneliti kerajaan Majapahit harus ke negeri Belanda untuk membaca buku Negara Kertagama di Perpustakaan Leiden University.
6. Menginspirasi , kalau kita jalan jalan ke Gramedia, sudah banyak buku yang ditulis oleh para Motivator yang terkenal, seperti Mario Teguh, Andri Wongso dan lain sebagainya,, tujuan penulis adlah supaya tulisannya dapat memberi inspirasi kepada yang membaca.
7. Menjadikan orang Populer, banyak dari penulis dengan bukunya bisa mengantar menjadi orang terkenal seperti halnya  JK Rolling, Andri Hirata, Pramodya dan lain sebagainya,  mereka menjadi terkenal didunia, karena tulisannya dapat memberikan hiburan, inspirasi, dan mungkin imajinasi yang dapat memperkaya jalan pikirnya

Menulis memang tidak sulit, yang sulit adalah memulainya satu kata yag harus ditulis,... tetapi kalau tidak dicoba maka tidak akan menjadi deretan kata yang menjadikan deretan kalimat,  dan pada akhirnya membuahkan hasil tulisan yang bermakna...