Sabtu, 27 Agustus 2016

Satu Pertanyaan Adalah Setengah Pengetahuan


Suatu pelajaran akan cepat terserap kalau siswa suasana hatinya senang dan penasaran yang diikuti dengan berbagai pertanyaan, karena dengan pertanyaan pasti akan melahirkan suatu jawaban...

Sebuah pertanyaan yang bagus adalah separuh pengetahuan......
Rasanya suatu hal yang klasik ketika setelah selesai menjelaskan di depan kelas dibuka sesi tanya jawab, tak ada satupun siswa yang bertanya. Bahkan sampai diberi stimulasi dengan memberikan hadiah tambahan nilai bagi siapa saja siswa yang berani bertanya.
Namun apa daya dari menit ke menit sesi tanya jawab siswa hanya saling pandang memandang tanpa ada arti, dan waktu terbuang sia sia saja. Kalau sudah begini  timbul keputus asaan akhirnya guru kembali ke metode mencatat dan menjelaskan mata pelajaran, terserah penyerapan pembelajaran itu urusan siswa.
Padahal dalam kurikulum 2013, metode pembelajaran yang digunakan adalah metode scientific (logika dan nalar) dengan diawali dengan suatu rasa penasaran atau keingin tahuan dari siswa. Keingin tahuan ini direpresentasikan dalam bentuk “menanya”.
Metode pembelajaran scientific approach adalah questioning (menanya). Kegiatan belajarnya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Pada kegiatan ditanya pembelajaran ini siswa melakukan pembelajaran bertanya. Siswa yang pandai dan cerdas akan bertanya atau menjawab pertanyaan baik dari guru maupun dari teman. Dari penjelasan guru yang ada mengenai mata pelajaran yang diberikan, siswa akan bertanya kepada pertanyaan  mulai dari apa, mengapa, bagaimana, kapan dan siapa kepada  guru atau teman sekelas untuk dapat ketahap memahami secara logis.
Pada langkah ini suasana pembelajaran yang berhasil adalah suasana kelas yang hidup yaitu terjadinya komunikasi aktif diskusi materi pelajaran. Siswa akan saling bertanya dan saling menjawab, sedangkan guru berperan sebagai inspirator, dan moderator untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan para siswanya.
Dari pengamatan dan survey kecil kecilan kepada siswa, ada beberapa alasan mengapa siswa enggan bertanya.
Alasan pertama, saat guru menjelaskan atau menerangkan suatu pelajaran tidak membuat siswa tertarik dengan apa yang dijelaskan, siswa tampak tenang duduknya namun pikirannya kemana saja.  Sehingga siswa tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Dari survey tanya jawab, kasus ini paling dominan. Ini artinnya guru harus mempunyai inovasi berkreasi untuk menjadikan mata pelajarannya membuat lebih menarik.
Alasan kedua, latar belakang  pola pembelajaran siswa untuk tidak berani kritis terhadap guru. Mungkin saja sekolah yang lama atau yang sebelumnya, para gurunya menggunakan metode tidak memberikan  kesempatan  untuk bertanya dan mengeluarkan ide gagasan dari siswanya.
Alasan ketiga, metode pengajaran  guru yang sering merendahkan kualitas pertanyaan dari siswa, sehinggga siswa takut untuk dijadikan bahan olok olok oleh temannya.
Alasan keempat, guru menjelaskan sangat jelas dan  tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Jika kasus ini guru harus melakukan test berupa pertanyaan yang memancing, agar menjadikan suasana penasaran dan keingintahuan siswa bangkit.
Alasan kelima guru hanya berfokus kepada siswanya yang dianggap pandai saja (pilih kasih), sehingga siswa lainnya merasa tidak ada gunanya, buat apa capai capai untuk aktif bertanya, kalau yang diperhatikan hanya mereka yang tertentu saja.

Nah, padahal keberhasilan suatu  mata pelajaran bukan pada pengajarannya tetapi pada tingkat penyerapan siswa terhadap pelajaran yang diberikan. Penyerapan sesuatu hal akan sangat efektif jika dilandasi dengan rasa penasaran atau rasa keingintahuan 

Dan rasa penasaran diawali dengan pertanyaan karena tidak tahu  adalah kata bijak dari sahabat rasul Ali bin Abi Thalib.

Dapatkanlah pengetahuan dengan mengatakan saya tidak tahu....( Imam Ali)

Salah satu metode yang pernah saya coba adalah dengan metode pengalaman (seperti Newton menemukan teori gravitasi). Metode ini tentunya bahan ajar harus melibatkan aktivitas seluruh indra dan kalau perlu anggota tubuh siswa. Kelas disuasanakan dengan semua siswa diasumsikan mempunyai kepandaian yang sama. Metode mungkin ini terbalik, biasanya teori penjelasan dahulu, kalau ini langsung diberikan suatu projek yang menarik (tentunya tetap dibimbing), metode ini meniru Stephen Covey dengan teorinya “Mulailah dari akhir pikiran” Beginning the end of mind.


Dari pengalaman yang diperoleh oleh siswa, tentunya siswa akan mulai bertanya, mengapa bisa, bagaimana prosesnya, apa saja yang bisa dihasilkan, kapan atau berapa lama proses ini bisa berlangsung dan siapa saja yang terlibat dalam projek ini. Pertanyaan rasa penasaran ini akan terjawab dari berbagai sumber belajar bisa dari guru, internet, pustaka dan lain sebagainya. Dari satu pengalaman mendapatkan puluhan pertanyaan dan akan menghasilkan seribu jawaban.

Always question what you know. It generates more answers.

Sabtu, 20 Februari 2016

Kompetensi sikap dalam Pendidkan

Kompetensi Sikap dalam Pendidikan,



Terkadang ada siswa yang memang mungkin sudah berbakat cerdas, setiap gurunya menjelaskan pelajaran, ia dengan seenaknya bertingkah mungkin ngobrol atau bercanda dengan temannya, atau bahkan dengan sengaja tidur, namun begitu gurunya menanyakan apa yang dijelaskan, ia segera dapat menjelaskan kembali secara runtut. Demikian juga terkadang ada siswa mendengarkan gurunya menjelaskan, ia duduk manis seolah serius tidak membuat ulah, namun disaat ditanya oleh gurunya ia tak paham apa yang sudah dijelaskan oleh pengajar.
Ini yang sering ditemui oleh pengajar di kelas, kasus yang kontradiktif antara intelegensia dengan attitude. Satu sisi siswa pandai namun perilakunya tak sesuai norma yang diharapkan, dan satu sisi  kita anggap kurang pandai namun perilakunya sesuai norma yang diharapkan oleh pengajar.
Pendidikan sekolah memang bukan sekedar menghasilkan orang orang yang pandai. Sesuai dengan UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003, bahwa pendidikan harus membekali peserta didik dengan kompetensi pengetahuan, kompetensi terampilan dan berujung pada kompetensi sikap.
Dan pada tujuan akhir sesuai pasal 3 UU no 20 tahun 2003 adalah menjadikan warga negara yang demokratis dan bertangung jawab.



Pengajar atau Guru dalam memberikan ilmu sudah dibekali dengan intrument mulai dari Silabus, RPP sampai dengan Buku Pegangangan Guru atau Modul Pembelajaran, namun apakah cukup dengan seperangkat intrument tersebut. Kalau hanya sebatas perangkat yang dimaksud tak ubahnya guru hanya sebagai robot pendidikan. 
The real Teacher are those who make students want to learn, guru sejatinya bukanlah petugas sekolah yang hanya mengulang ucapan dari buku ajar, atau sekedar menjalankan RPP saja, namun adalah mendidik bagaimana menginsipirasi agar siswanya senang untuk selalu belajar.  

Seorang ahli pendidikan Clay P.Bedford mengatakan, ajarilah murid dengan rasa keinginan tahu / penasaran maka mereka akan selalu mengalami proses belajar sepanjang hayatnya
  
Dalam Pendidikan Sekolah kehadiran guru di kelas mutlak diperlukan dan tidak selamanya bisa tergantikan oleh internet. Karena Tujuan Sekolah, bukanlah hanya memberi pengetahuan (knowledge) saja, pengetahuan yang diberikan oleh sekolah sangat minim sekali dari dunia nyata dan bahkan seiring kemajuan jaman selalu berubah.
Guru harus pandai mensisipkan kompetensi Sikap yaitu meneladani bersikap displin, bertanggung jawab, empati dan respek dan lain sebagainya.  

Dalam setiap kompetensi pengetahuan, guru memang harus mengeksplorasi penalaran siswanya agar dapat berpikir secara rasional, namun agar tidak mengesampingkan bahwa dalam hal yang rasionalitas ada seuatu bahwa pengetahuan ini adalah mutlak dari sang Pencipta, untuk bekal menjaga alam semesta. Seperti apa yang dikatakan oleh Albert Einstein " Sciences without Religion is lame,  and Relgion without Sciences is blind"  ini artinya Ilmu dan Agama adalah saling melengkapi dan memperkuat.
Guru harus bisa mengembangkan pengetahuan yang diajarkan dengan realita saat ini baik dengan memberikan pelajaran praktekkan teori yang diajarkan atau mensimulasikan bahwa pengetahuan ini bermanfaat  untuk kehidupan manusia. 
Oleh sebab itu guru harus mempunyai prinsip "Jangan Pernah Berhenti Belajar,... Karena Kehidupan Tak Pernah Berhenti Mengajar" 
Belajar untuk mengkorelasikan bahan ajar pengetahuan dengan realita saat ini, sehingga siswa dapat merasakan manfaat ilmu yang diterapkan.
"We hear and we can forget, we see and we can remember, we do and we will 
understand,.."




Dalam mempraktekkan pengetahuan yang didapat, 
setiap kegagalan akan didiskusikan untuk  
menambah pengetahuan baru.
(dok : SMK TELKOM Jakarta )

Guru dituntut untuk berkreasi dan berinovasi dalam menyampaikan materi pelajaran dan pesan moral, dan kreasi saat ini tidak bisa diulang untuk hari esok, karena dunia dan persepsi selalu berubah.
Pengembangan pengetahuan dengan mempraktekkan ke dalam realita  adalah sebagai wujud membekali keterampilan pengetahuan yang sudah didapat, agar siswa setelah memahami dapat menerapkan dengan cara yang benar.
Keterampilan ini bukan sekedar yang harus dapat dilakukan sesuai dengan standard teknis materi ajar, namun adalah ketrampilan yang mempunyai nilai nilai moral yang luhur.
Misalnya nilai nilai disiplin terhadap posedur yang sudah ditentukan, tidak merusak lingkungan, kerjasama, saling menghargai dalam satu team dan lain sebagainya.
Maka untuk kompetensi sikap, sebetulnya harus diinterintegrasi pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan.  Karena Sikap pada dasarnya adalah ibarat gunung es yang tersembunyi, sehingga harus direalisasikan ke dalam Pengetahuan dan Ketrampilan agar nampak dan dapat memanfaatkan kompetensi Pengetahuan dan Ketrampilan.
Dengan demikian diharapkan dengan Modal Kompetensi Pengetahuan dan Keterampilan, akan melahirkan sikap untuk membuat kebaikan bagi sesama manusia dan alam semesta.


Seorang tokoh Fisika Albert Eistein mengatakan, Hasil Belajar adalah seuatu apa yang tersisa dari yang terlupa,..... 
"Education is what remains after one has forgotetten what one has learned in school"
Nah dari ucapan ini memang kenyataannya " entah itu rumus kimia atau rumus matematika setelah lulus sekolah pasti terlupakan, namun guru yang mengispirasi bagaimana caranya belajar kimia dan matematika  dan bagaimana bersikap akan selalu dikenang"
Oleh sebab itu kehadiran seorang guru dalam memberikan inspirasi bagaimana belajar dan bagimana bersikap akan selalu dikenang.

(SukhendroP)

Rabu, 09 Desember 2015

Teaching with Passion

Mengajar dengan Passion, siswa akan lebih menyenangi belajar

Educating the mind without educating the heart is no education at all. ,.. mendidik tanpa hati adalah sama sekali tidak mendidik, demikian kata bijak dari Ki Hajar Dewantor.
Otak akan merasa nyaman untuk berpikir, jika hati juga senang. Ada juga yang mengatakan "Gedung Sekolah itu penting, Tetapi lebih penting Kurikulumnya, Kurikulum itu penting tetapi yang penting adalah Gurunya,.. Guru itu sangat penting,..tetapi yang lebih Penting lagi Gurunya mengajar dengan Hati.
Bagi seorang Guru sebelum berangkat mengajar kesekolah setidaknya harus mempunyai persiapan 3 (tiga) hal primer  yang sangat mendasar.

Pertama, adalah materi dan bahan ajar. Tanpa persiapan materi maka proses pembelajaran akan kehilangan arah tujuan yang diharapkan dari siswa maupun guru. Bukan hanya sekedar persiapan materi, guru juga harus mendalami materi agar jika ada pertanyaan kritis dari siswa dapat menjawab. Jangan sampai guru tidak menguasai materi, maka dapat menurunkan kewibawaan dan kepercayaan guru. Korelasi kepercayaan kepada guru akan sangat berpengaruh kepada proses pembelajaran terhadap siswa, jika guru tidak menguasai materi yang diajarkan bagaimana siswa dapat memahami apa yang di ajarkan. Ada sebuah kata bijak "doscendo dismicus,.... aku mengajar maka aku belajar" artinya kalau guru tidak belajar maka akan lebih baik tidak perlu mengajar.

Kedua, adalah Metode menerapkan bagaimana menyampaikan materi pembelajaran secara efektif dengan nyaman, jelas dan menyenangkan. Bukan hanya sekedar membuka laptop dan menayangkan dengan projektor terus membaca tayangan atau menulis di papan tulis.
Penulis pernah punya pengalaman, mempunyai  seorag dosen yang sangat pandai sekali gelar titelnya berderet baik didepan maupun dibelakang namanya, Namun saat mengajar metodenya hanya menayangkan slide terus bicara monoton tentang apa yang ditayangkan, sehinga suasananya sangat kering. Mugkin apa yang terserap di benak mahasiswanya tidak lebih dari 50% saja.
Lain waktu penulis juga punya seorang dosen, yang mungkin nampaknya biasa biasa saja, saat mengajarkan bahkan dia tidak pernah lihat tayangannya sendiri. Penuh ekspresi dan gerakan tubuhnya semua bergerak, jalan mondar mandir kebelang ke depan, sehinga pandangan matanya tidak pada satu kelompok mahsiswanya, menjelaskan lebih banyak hubungan antaa mata kuliah dengan kehidupan sehari hari. Terkadang juga diselingi dengan kata kata humor, susana kelas rasanya hidup, sehingga para mahasiswa sangat terkesan dengan mata kuliah ini. Dosen ini mungkin menerapkan Joyful Learning agar materi yang disampaikan dapat optimal terserap kedalam pikiran ke para mahasiswanya. Disini menenankan bukannya santai tetapi metode membuat kenyamanan belajar.
belajar dengan suasana yang menyenangkan membuat optimal berpikir

Ketiga, adalah Passion , yang mungkin terjemahannya adalah mencintai sepenuhnya profesi yang diemban tanpa mengharapkan sesuatu. Seorang guru yang baik, adalah ketika ia masuk kelas mesi dengan hati Dengan energi dan vibrasi cinta kepada anak anak disik. Mengajar tanpa hati maa pasi suasana akan hambar. Bahkan dipastikan anak anak didik, mendengar juga tanpa hati, atau istilahnya Hearing without Listening.
Kita pasti punya pengalaman jika diajarkan seorang guru yang dengan passion, pasti mempunyai kesan yang mendalam dibanding dengan guru yang mengajar hanya sesuai dengan kewajibannya.
Mengajar dengan hati yang kesal, atau muka cemberut. akan mempengaruhi siswa yang diajar dan membuat suasana proses pembelajaran tidak akan optimal.
Maka hendaknya guru saat berangkat dari rumah, harus sudah menjaga emosi dan niatkan penuh untuk selalu mencintai profesi dan anak anak didik....
(Sukhendro, 10 Desember 2015)

Benarkah internet membuat pintar,...?

Ada beberapa kalangan pendidik mengatakan, hanya Internet yg dapat membuat anak untuk menjadi pintar pada abad 21 ini, karena perkembangan pengetahuan yang begitu cepat sehingga harus diimbangi dengan kecepatan informasi. Pertanyaannya, benarkah pendapat bahwainternet membuat untuk menjadi pintar. Jawabannya menurut penulis belum tentu, bisa iya atau bisa tidak.
 Sebenarnya manfaat internet untuk proses pembelajaran memang diakui sebagai keniscayaan selama penggunaannya tepat, namun dibalik manfaat ada dampak negatif yang senantiasa membayangi yang berhubungan dengan kemampuan berpikir penggunanya.

Buku cetak vs Internet.


Ada salah satu sekolah di Amerika, Cushing Academy memutuskan menutup perpustakaan dengan ribuan buku koleksi. Perpustakaan ini secara total diganti dengan teknologi IT atau internet. Oleh sekolah ini disebut dengan State of the art computers high definition.
Fasilitas yang super canggih ini tersambung dengan broadband internet kecepatan tinggi, yang dapat menyediakan informasi yang berlimpah dan selalu mutakhir dari berbagai penjuru dunia, untuk keperluan pembelajaran dan penelitian para siswanya.      
Asumsi sekolah bahwa membaca buku cetak dan membaca dengan media komputer dianggap sama saja, artinya proses membaca apapun medianya dianggap sama. Seorang pakar informasi dan komunikasi bernama Nicholas Carr mengkritik kebijakan sekolah tersebut.Menurut Carr, sangat berbedas saat membaca buku cetak dengan membaca media komputer yang terhubung dengan jaringan internet.
Saat membaca buku cetak, maka pembaca suasananya seolah terisolasi, sehingga ia bisa fokus kepada bacaannya.Membaca buku adalah merupakan proses berpikir, untuk mengetahui sesuatu hal yang baru, menganalisa, mengkritisi, mengimajinasi, dan reflektif serta melatih berkreasi.
Sebaliknya pada saat membaca pada media IT yang terkoneksi dengan jaringan internet pembaca akan tergoda dengan gangguan konten yang lain misalnya game on line, whats up, facebook, e-mail dan lain sebagainya. Maka sangat memungkinkan membaca sebuah artikel yang panjang dan bermuatan yang memerlukan olah pikir menjadi sebuah tugas yang berat.
Maka tak heran jika suatu media berita semisal detik.com memuat berita akan terpenggal yang diperkirakan membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk dibaca.Hal tersebut karena pikiran kita tidak memungkinkan untuk berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Kemudahan kemudahan untuk mengakses informasi dan hiburan membuat kemampuan otak manusia manja yang berakibat berkurangnya fokus untuk membaca.

Kegiatan Belajar dengan Internet




Sejauh ini pandangan efek negatif Internet pada anak anak adalah hanya pada konten yang bersifat mengandung pornografi dan kekerasan, Padahal disamping efek negatif dari konten tersebut, adalah penggunaan sarana belajar.
Ada yang menganggap dengan cara mencari informasi pengetahuan siswa dapat mengerjakan tugas tugas dari guru. Siswa diberi tugas utuk mendapatkan suatu pengetahuan baru dari guru, maka yang dilakukan siswa adalah mencari meteri yang berlembar lembar dari internet dengan cara " copy and paste", yang mereka tidak mengerti apalagi dipahami. Mereka hanya sekedar memindahkan tulisan yang ada dilaman ke kertas, tanpa melalui proses membaca dan berpikir.  
Seorang pakar pendidikan Mark Baulein, dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada bukunya "The Dumbest Generation" mengatakan bahwa siswa yang diberi tugas oleh gurunya hanya sekedar mencari, dan  memindahkan informasi, bukan untuk membaca dan menganalisa untuk membangun pengetahuan di benaknya. Informasi dari internet hana lewat begitu saja di kepalanya.  Yang dilakukan pada anak anak juga dilakukan oleh orang dewasa untuk mencomot suatu artikel tanpa harus diperiksa kesahihannya maupun kebenarannya, dan tanpa memahami apa makna dari artikel tersebut.

Belajar Budaya Literasi



Harapan harapan yang ditumpukan untuk proses pembelajaran pada teknologi internet teralu sangat besar. Sayangnya harapan besar itu tidak dibarengi dengan sikap kritis, dan sering mengabaikan bahwa internet tidak bekerja sendirian. Pengguna internet sebagai subyek sebetulya adalah lebih penting dibanding dengan teknologi internet itu sendiri.
Sebagai pendidik yang juga mewajibkan melek terhadap Teknologi Internet, hendaknya jga membekali siswanya sebagai pengguna internet dengan budaya membaca dan menulis atau Budaya Literasi, karena setidaknya saat membaca buku, pikiran akan berkonsentrasi dan mengalami proses pikir, sedangkan menulis adalah bagaimana menuangkan buah pikiran maupun gagasan.
Dalam budaya Literasi terkandung sikap kritis dalam proses pencarian informasi Setiap informasi tidak begi saja dilakukan copy dan paste kedalam tugas tugas sekolah atau kuliah.
Dalam hal ini tidak menafikkan  Teknologi Informasi Internet sebagai sumber pengetahuan, namun harus diiringi budaya Literasi, yaitu hendaknya terlebih dahulu dibaca, dicerna, dipahami, dan dibangun untuk menjadi pengetahuan. Tanpa proses budaya Literasi maka Teknologi Informasi bukan akan membangun pengetahuan, namun akan mereduksi cara berpikir siswa untuk menambah pengetahuan.
(Sukhendro, Jakarta 7 Desember 2015)

Kamis, 03 Desember 2015

When the Pen becomes the sword


"Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh di kemudian hari" ,  demikian Pramoedya menulis dalam novelnya Anak Semua Bangsa.  Maka tak salah jika orang yang mengatakan bahwa menulis itu mempunyai kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia.
Menulis bukan sekedar menggoreskan pena dikertas, tetapi lebih jauh lagi menuangkan gagasan atau ide yang dapat mempengaruhi pikiran orang yang membacanya, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi perbuatan atau tindakannnya.
Secara empirik, kemajuan suatu bangsa adalah ditandai banyaknya  penulis atau banyaknya buku yang diterbitkan, artinya bangsa itu sudah mulai menjadi masyarakat menulis  (literality social), sementara bangsa yang masih sedikit memproduksi buku bacaan adalah masih pada masyarakat  berbudaya lisan ( oral social).

Ada beberapa alasan mengapa orang untuk menulis.
1.  Menuangkan kreativitas, orang tak mungkin hanya menyimpan ide atau gagasannya didalam pikirannya,  sebagai mahluk sosial pasti ide atau gagasan harus  disampaikan kepada orang lain dengan cara yang lebih efektif dibanding harus bicara personal to personal.
2. Mengembangkan Imajinasi, mungkin kita pernah dengar cerita fiktif yang  bisa menimbulkan imajinasi orang yang membaca. Contohnya adalah Jules Verne, yang dapat mengimanjinasi  yang membaca novelnya.
3.Mengembangkan perbendaharaan kata.   Saat kia membaca buku atau tulisan, setidaknya pikiran akan menambah perbendaharaan kata dan bahkan akan mengingat perbendaharaan kata yang mungkin dapat memperkaya pemgetahuan untuk komunikasi.
4. Mengabadikan, dengan tulisan maka suatu pengetahuan atau ajaran akan timeless,atau selalu abadi contohnya adalah kitab suci Al Quran atau mushaf , dimana tulisan yang mengandung wahyu Allah SWT yang diabadikan melalui Rasulullah Muhamad diabadikan dalam bentuk literasi.
5. Kenangan masa lalu  atau Riwayat agar  dapat diketahui oleh generasi selanjutnya. Negara negara maju setiap peristiwa selalu mendokumentasikan dalam bentuk buku buku agar dapat diketahui oleh generasi penerusnya. HHal ini di negeri kita  masih kurang peduli, bahkan konon para peneliti sejarah nusantara, saat meneliti kerajaan Majapahit harus ke negeri Belanda untuk membaca buku Negara Kertagama di Perpustakaan Leiden University.
6. Menginspirasi , kalau kita jalan jalan ke Gramedia, sudah banyak buku yang ditulis oleh para Motivator yang terkenal, seperti Mario Teguh, Andri Wongso dan lain sebagainya,, tujuan penulis adlah supaya tulisannya dapat memberi inspirasi kepada yang membaca.
7. Menjadikan orang Populer, banyak dari penulis dengan bukunya bisa mengantar menjadi orang terkenal seperti halnya  JK Rolling, Andri Hirata, Pramodya dan lain sebagainya,  mereka menjadi terkenal didunia, karena tulisannya dapat memberikan hiburan, inspirasi, dan mungkin imajinasi yang dapat memperkaya jalan pikirnya

Menulis memang tidak sulit, yang sulit adalah memulainya satu kata yag harus ditulis,... tetapi kalau tidak dicoba maka tidak akan menjadi deretan kata yang menjadikan deretan kalimat,  dan pada akhirnya membuahkan hasil tulisan yang bermakna...