Rabu, 09 Desember 2015

Benarkah internet membuat pintar,...?

Ada beberapa kalangan pendidik mengatakan, hanya Internet yg dapat membuat anak untuk menjadi pintar pada abad 21 ini, karena perkembangan pengetahuan yang begitu cepat sehingga harus diimbangi dengan kecepatan informasi. Pertanyaannya, benarkah pendapat bahwainternet membuat untuk menjadi pintar. Jawabannya menurut penulis belum tentu, bisa iya atau bisa tidak.
 Sebenarnya manfaat internet untuk proses pembelajaran memang diakui sebagai keniscayaan selama penggunaannya tepat, namun dibalik manfaat ada dampak negatif yang senantiasa membayangi yang berhubungan dengan kemampuan berpikir penggunanya.

Buku cetak vs Internet.


Ada salah satu sekolah di Amerika, Cushing Academy memutuskan menutup perpustakaan dengan ribuan buku koleksi. Perpustakaan ini secara total diganti dengan teknologi IT atau internet. Oleh sekolah ini disebut dengan State of the art computers high definition.
Fasilitas yang super canggih ini tersambung dengan broadband internet kecepatan tinggi, yang dapat menyediakan informasi yang berlimpah dan selalu mutakhir dari berbagai penjuru dunia, untuk keperluan pembelajaran dan penelitian para siswanya.      
Asumsi sekolah bahwa membaca buku cetak dan membaca dengan media komputer dianggap sama saja, artinya proses membaca apapun medianya dianggap sama. Seorang pakar informasi dan komunikasi bernama Nicholas Carr mengkritik kebijakan sekolah tersebut.Menurut Carr, sangat berbedas saat membaca buku cetak dengan membaca media komputer yang terhubung dengan jaringan internet.
Saat membaca buku cetak, maka pembaca suasananya seolah terisolasi, sehingga ia bisa fokus kepada bacaannya.Membaca buku adalah merupakan proses berpikir, untuk mengetahui sesuatu hal yang baru, menganalisa, mengkritisi, mengimajinasi, dan reflektif serta melatih berkreasi.
Sebaliknya pada saat membaca pada media IT yang terkoneksi dengan jaringan internet pembaca akan tergoda dengan gangguan konten yang lain misalnya game on line, whats up, facebook, e-mail dan lain sebagainya. Maka sangat memungkinkan membaca sebuah artikel yang panjang dan bermuatan yang memerlukan olah pikir menjadi sebuah tugas yang berat.
Maka tak heran jika suatu media berita semisal detik.com memuat berita akan terpenggal yang diperkirakan membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk dibaca.Hal tersebut karena pikiran kita tidak memungkinkan untuk berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Kemudahan kemudahan untuk mengakses informasi dan hiburan membuat kemampuan otak manusia manja yang berakibat berkurangnya fokus untuk membaca.

Kegiatan Belajar dengan Internet




Sejauh ini pandangan efek negatif Internet pada anak anak adalah hanya pada konten yang bersifat mengandung pornografi dan kekerasan, Padahal disamping efek negatif dari konten tersebut, adalah penggunaan sarana belajar.
Ada yang menganggap dengan cara mencari informasi pengetahuan siswa dapat mengerjakan tugas tugas dari guru. Siswa diberi tugas utuk mendapatkan suatu pengetahuan baru dari guru, maka yang dilakukan siswa adalah mencari meteri yang berlembar lembar dari internet dengan cara " copy and paste", yang mereka tidak mengerti apalagi dipahami. Mereka hanya sekedar memindahkan tulisan yang ada dilaman ke kertas, tanpa melalui proses membaca dan berpikir.  
Seorang pakar pendidikan Mark Baulein, dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada bukunya "The Dumbest Generation" mengatakan bahwa siswa yang diberi tugas oleh gurunya hanya sekedar mencari, dan  memindahkan informasi, bukan untuk membaca dan menganalisa untuk membangun pengetahuan di benaknya. Informasi dari internet hana lewat begitu saja di kepalanya.  Yang dilakukan pada anak anak juga dilakukan oleh orang dewasa untuk mencomot suatu artikel tanpa harus diperiksa kesahihannya maupun kebenarannya, dan tanpa memahami apa makna dari artikel tersebut.

Belajar Budaya Literasi



Harapan harapan yang ditumpukan untuk proses pembelajaran pada teknologi internet teralu sangat besar. Sayangnya harapan besar itu tidak dibarengi dengan sikap kritis, dan sering mengabaikan bahwa internet tidak bekerja sendirian. Pengguna internet sebagai subyek sebetulya adalah lebih penting dibanding dengan teknologi internet itu sendiri.
Sebagai pendidik yang juga mewajibkan melek terhadap Teknologi Internet, hendaknya jga membekali siswanya sebagai pengguna internet dengan budaya membaca dan menulis atau Budaya Literasi, karena setidaknya saat membaca buku, pikiran akan berkonsentrasi dan mengalami proses pikir, sedangkan menulis adalah bagaimana menuangkan buah pikiran maupun gagasan.
Dalam budaya Literasi terkandung sikap kritis dalam proses pencarian informasi Setiap informasi tidak begi saja dilakukan copy dan paste kedalam tugas tugas sekolah atau kuliah.
Dalam hal ini tidak menafikkan  Teknologi Informasi Internet sebagai sumber pengetahuan, namun harus diiringi budaya Literasi, yaitu hendaknya terlebih dahulu dibaca, dicerna, dipahami, dan dibangun untuk menjadi pengetahuan. Tanpa proses budaya Literasi maka Teknologi Informasi bukan akan membangun pengetahuan, namun akan mereduksi cara berpikir siswa untuk menambah pengetahuan.
(Sukhendro, Jakarta 7 Desember 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar